
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi mematok target ambisius bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan negara sebesar US$ 50 miliar atau setara dengan Rp 800 triliun setiap tahunnya. Pernyataan tegas ini disampaikan Kepala Negara saat menghadiri acara peringatan satu tahun berdirinya Danantara yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta, pada Rabu petang, 11 Maret 2026. Target ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah manifestasi dari visi besar Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global melalui pengelolaan aset negara yang profesional, transparan, dan berorientasi pada hasil maksimal.
Dalam pidatonya di hadapan jajaran direksi dan dewan pengawas Danantara, Prabowo menekankan pentingnya efisiensi dan profitabilitas dalam mengelola kekayaan negara. Ia menyoroti indikator Return on Assets (RoA) atau tingkat pengembalian aset sebagai tolok ukur utama keberhasilan lembaga super holding tersebut. Berdasarkan kalkulasi matematis yang dipaparkan Presiden, dengan total aset kelolaan (Asset Under Management) Danantara yang kini telah mencapai angka fantastis sebesar US$ 1.000 miliar atau sekitar Rp 16.000 triliun, maka tingkat pengembalian aset sebesar 5 persen saja sudah mampu menyumbangkan dana segar senilai US$ 50 miliar ke kas negara. Angka Rp 800 triliun tersebut setara dengan hampir sepertiga dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini, yang jika terealisasi, akan memberikan ruang fiskal yang luar biasa luas bagi pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
"Kalau hanya 5 persen return on assets, berarti Danantara harus kembalikan ke negara US$ 50 miliar tiap tahun. US$ 50 miliar itu berarti Rp 800 triliun. Jadi pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh," tegas Prabowo dengan nada bicara yang penuh penekanan. Pesan ini menjadi peringatan sekaligus motivasi bagi manajemen Danantara bahwa performa yang ada saat ini barulah langkah awal dari perjalanan panjang menuju transformasi ekonomi nasional. Prabowo memandang bahwa standar keberhasilan sebuah institusi pengelola investasi tingkat dunia tidak boleh berhenti di angka minimalis. Menurutnya, sebuah perusahaan atau lembaga dengan tata kelola yang baik seharusnya mampu menghasilkan RoA minimal 10 persen. Ia bahkan menyebutkan bahwa perusahaan yang masuk kategori bagus bisa menyentuh angka 12 persen, sementara institusi yang benar-benar hebat mampu mencapai 15 persen.
Meskipun mematok target yang sangat tinggi, Prabowo menunjukkan sisi realistisnya dengan mengakui bahwa pencapaian angka-angka tersebut memerlukan proses dan tidak bisa diraih dalam semalam. Ia memahami bahwa restrukturisasi aset-aset negara yang sebelumnya tersebar di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan kementerian memerlukan waktu untuk sinkronisasi dan optimalisasi. Namun, ia menegaskan bahwa kunci utama dari manajemen yang sukses bukan hanya terletak pada kecanggihan teknologi atau algoritma investasi, melainkan pada integritas, hati, dan jiwa para pengelolanya. Ia memberikan apresiasi atas pencapaian tahun pertama Danantara, di mana lembaga ini diklaim telah berhasil meningkatkan angka RoA dari BUMN-BUMN yang dikelolanya hingga melonjak 300 persen sepanjang tahun 2025.
Keberadaan Danantara sendiri dirancang sebagai evolusi dari konsep Kementerian BUMN. Dengan mengubah pola hubungan dari birokratis menjadi profesional-investatif, Danantara diharapkan mampu bergerak lebih lincah layaknya Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia. Prabowo ingin Danantara menjadi motor penggerak ekonomi yang tidak hanya mengandalkan suntikan dana negara (PMN), tetapi justru menjadi sumber pendapatan utama bagi negara. Dalam konteks ini, setiap perusahaan pelat merah yang berada di bawah payung Danantara harus diawasi dengan sangat ketat. Prabowo menyebut BUMN-BUMN tersebut sebagai "darah bangsa Indonesia." Analogi ini menggambarkan betapa vitalnya peran perusahaan negara dalam menyokong kehidupan rakyat banyak.
Oleh karena itu, isu kebocoran kekayaan negara menjadi poin krusial yang disorot oleh Presiden. Prabowo menegaskan bahwa setiap sen dari aset yang dikelola harus dijaga agar tidak bocor ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia memperingatkan bahwa jika praktik-praktik koruptif atau inefisiensi dibiarkan terus terjadi, maka bangsa Indonesia akan terjebak dalam krisis dan keadaan sulit yang berkepanjangan. Pengawasan di tubuh Danantara harus dilakukan secara berlapis dan menggunakan standar internasional. Ia mengingatkan para petinggi Danantara untuk belajar dari sejarah lembaga-lembaga pengelola dana investasi di negara lain yang gagal dan mengalami kerugian besar akibat manajemen yang ugal-ugalan atau kurangnya pengawasan.
Di tengah situasi geopolitik dunia yang penuh dengan ketidakpastian, mulai dari konflik dagang hingga ketegangan militer di berbagai belahan dunia, Prabowo tetap optimis bahwa Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Ia meyakini bahwa krisis yang terjadi di tingkat global justru harus dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawarnya. Syarat utamanya adalah persatuan dan kerukunan di dalam negeri. "Krisis kita hadapi dengan gagah. Krisis adalah peluang. Kita bersatu, kita rukun, kita kerja keras," ucapnya di depan para tamu undangan. Optimisme ini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam dan potensi pasar domestik Indonesia yang sangat besar, yang jika dikelola oleh lembaga sekuat Danantara, akan menjadi daya tarik luar biasa bagi investor asing.
Prabowo juga menitipkan pesan moral yang mendalam kepada seluruh jajaran Danantara. Ia menggunakan istilah filosofis Jawa, "eling dan waspada," yang berarti senantiasa ingat akan tanggung jawab dan selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia mengingatkan bahwa di pundak para pengelola Danantara terletak harapan jutaan rakyat Indonesia, mulai dari anak-anak yang membutuhkan pendidikan layak hingga lansia yang memerlukan jaminan kesehatan. Kekayaan yang dikelola oleh Danantara bukanlah milik pemerintah saat ini semata, melainkan warisan untuk anak, cucu, dan cicit bangsa Indonesia di masa depan. Integritas pribadi para pengelola menjadi benteng terakhir dalam menjaga marwah lembaga ini.
Lebih lanjut, transformasi BUMN menuju Danantara diharapkan mampu menghapus sekat-sekat ego sektoral yang selama ini sering menghambat akselerasi perusahaan negara. Dengan konsolidasi aset sebesar US$ 1.000 miliar, Danantara memiliki kekuatan negosiasi yang sangat besar di pasar modal internasional. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk menarik investasi langsung yang berkualitas, yang mampu menciptakan lapangan kerja dan melakukan transfer teknologi. Target Rp 800 triliun per tahun yang diminta Prabowo adalah pesan jelas bahwa pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dan pajak rakyat dengan cara mengoptimalkan keuntungan dari kekayaan negara itu sendiri.
Secara teknis, untuk mencapai RoA 10 persen seperti yang diimpikan Prabowo, Danantara perlu melakukan perampingan portofolio dan fokus pada sektor-sektor strategis yang memiliki margin keuntungan tinggi, seperti energi terbarukan, teknologi digital, perbankan, dan hilirisasi komoditas. Jika target ini tercapai, Danantara tidak hanya akan menjadi sekadar perusahaan induk, tetapi akan bertransformasi menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF) raksasa yang mampu menyaingi kekuatan finansial negara-negara maju. Peringatan satu tahun Danantara ini menjadi titik balik bagi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo, di mana profesionalisme menjadi panglima dalam pengelolaan aset publik.
Menutup arahannya, Prabowo kembali mengingatkan bahwa perjalanan masih sangat panjang dan tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Namun, dengan kepemimpinan yang kuat dan visi yang jelas, ia percaya Danantara akan mampu melampaui ekspektasi. Angka Rp 800 triliun bukanlah batas akhir, melainkan standar minimal baru dalam mendefinisikan kontribusi perusahaan negara terhadap kedaulatan ekonomi Indonesia. Rakyat kini menunggu pembuktian dari manajemen Danantara untuk mewujudkan target ambisius tersebut demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
