
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan secara resmi telah memulai langkah-langkah strategis dalam memetakan sejumlah jalur yang dianggap rawan kecelakaan, rawan kemacetan, serta titik-titik krusial lainnya menjelang arus mudik Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Persiapan matang ini dibahas secara mendalam dalam rapat koordinasi lintas sektoral yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan di Griya Agung, Palembang, pada Kamis, 12 Maret 2026. Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi jutaan jiwa yang diprediksi akan melintasi wilayah Sumatera Selatan, yang merupakan gerbang utama sekaligus penghubung vital bagi mobilitas penduduk di Pulau Sumatera.
Rapat koordinasi ini melibatkan seluruh elemen kunci pengamanan dan pelayanan publik, mulai dari unsur Pemerintah Daerah, Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel, Kodam II/Sriwijaya, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pengelola jalan tol. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah sinkronisasi data dan aksi di lapangan agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan yang dapat menghambat arus kendaraan. Pemerintah daerah menekankan bahwa koordinasi lintas sektor adalah harga mati untuk memastikan setiap jengkal jalan yang dilalui pemudik berada dalam pengawasan dan kondisi yang layak.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam arahannya menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas absolut di atas segalanya. Menurutnya, berbicara mengenai persiapan lintas sektoral berarti tidak boleh ada satu pun detail yang terlewatkan, mulai dari urusan keamanan dari tindak kriminal, kelancaran lalu lintas, hingga kenyamanan fasilitas pendukung di sepanjang jalur mudik. Ia berharap seluruh instansi terkait dapat memberikan kontribusi maksimal, baik berupa data terkini maupun saran teknis yang implementatif guna memitigasi segala risiko yang mungkin timbul selama periode mudik dan balik berlangsung.
Lebih lanjut, Gubernur menjelaskan bahwa pengamanan selama periode Lebaran 2026 memiliki tantangan tersendiri mengingat volume kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan kemajuan infrastruktur di wilayah tersebut. Pengamanan ini tidak hanya terfokus pada moda transportasi darat melalui jalan raya dan jalan tol, tetapi juga mencakup kesiapan infrastruktur transportasi laut melalui pelabuhan penyeberangan, transportasi udara di bandara internasional, serta layanan publik esensial lainnya seperti ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU dan keandalan jaringan listrik serta telekomunikasi.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, sejumlah jalur lintas provinsi menjadi atensi khusus karena karakteristik jalannya yang menantang. Di jalur lintas tengah (Jalinteng), ruas jalan yang menghubungkan Martapura hingga Muratara sepanjang kurang lebih 455 kilometer diprediksi akan mengalami lonjakan beban kendaraan yang signifikan. Demikian pula dengan ruas Palembang menuju Lubuklinggau sepanjang 385 kilometer yang dikenal memiliki medan berkelok dan melintasi kawasan perbukitan. Jalur-jalur ini menuntut kesiapan fisik jalan yang prima serta kehadiran pos-pos pengamanan di titik-titik buta (blind spot) untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Selain jalur tengah, jalur lintas timur (Jalintim) tetap menjadi primadona sekaligus tantangan besar bagi petugas di lapangan. Rute yang menghubungkan Kota Palembang dengan wilayah Kabupaten Banyuasin hingga mencapai Musi Rawas diprediksi akan menjadi salah satu rute terpadat. Jalur ini merupakan urat nadi logistik dan mobilitas warga yang menuju ke arah utara Sumatera. Selain itu, jalur arteri Palembang–Jambi sepanjang 284 kilometer juga mendapat perhatian ekstra. Sebagai jalur penghubung penting antarprovinsi di wilayah Sumatera bagian selatan, kondisi aspal dan penerangan jalan di sepanjang rute ini terus dipantau agar tetap memenuhi standar keselamatan minimal.
Modernisasi infrastruktur jalan tol di Sumatera Selatan juga membawa paradigma baru dalam pemetaan arus mudik. Sejumlah ruas tol yang kini telah beroperasi secara penuh dipetakan sebagai titik yang memerlukan pengawasan khusus, terutama pada gerbang tol yang berpotensi mengalami antrean panjang. Beberapa ruas tol yang menjadi fokus utama meliputi Tol Palembang – Indralaya (Palindra), Tol Kayuagung – Palembang (Kapal), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayuagung (TBPPKA), serta Tol Indralaya – Prabumulih (Indrapra). Tak ketinggalan, ruas Tol Betung – Tempino – Jambi (Betajam) yang menjadi bagian penting dari konektivitas Trans-Sumatera juga dipersiapkan untuk menampung limpahan kendaraan dari jalur arteri.
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, Inspektur Jenderal Sandi Nugroho, menyatakan bahwa kesiapan Operasi Ketupat Musi 2026 bukan sekadar operasi rutin kepolisian untuk menjaga ketertiban lalu lintas. Operasi ini merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan yang komprehensif bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa dan berniat pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari kemenangan. Polda Sumsel telah menyiapkan ribuan personel yang akan disebar ke berbagai pos pengamanan (Pospam), pos pelayanan (Posyan), dan pos terpadu di seluruh wilayah hukum Sumatera Selatan.
Irjen Sandi Nugroho juga menambahkan bahwa pemanfaatan jalan tol sebagai jalur alternatif sangat krusial untuk mempercepat waktu tempuh dan mengurai kemacetan di jalan nasional. Pihak kepolisian bersama pemerintah daerah dan pengelola jalan tol telah melakukan tinjauan lapangan secara langsung, khususnya di ruas tol Kayuagung–Palembang–Betung. Tinjauan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan fasilitas pendukung seperti rest area, ketersediaan air bersih, mushola, hingga kesiapsiagaan mobil derek dan ambulans yang harus standby selama 24 jam. Pengawasan di jalan tol juga akan diperketat dengan penggunaan teknologi CCTV yang terintegrasi dengan pusat komando (Command Center) untuk memantau pergerakan kendaraan secara real-time.
Dari sisi manajemen waktu, Dinas Perhubungan Sumatera Selatan telah merilis prediksi mengenai linimasa arus mudik. Diperkirakan arus kendaraan akan mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan pada tanggal 13 hingga 16 Maret 2026. Adapun puncak arus mudik diprediksi akan jatuh pada tanggal 17 Maret 2026, di mana pada hari tersebut diprediksi akan terjadi pertemuan antara pemudik jarak jauh dan pemudik lokal. Sementara itu, untuk arus balik, puncak kepadatan diperkirakan terjadi pada tanggal 28 hingga 29 Maret 2026, seiring dengan berakhirnya masa libur bersama dan cuti Lebaran.
Untuk mengantisipasi kelelahan pengemudi yang seringkali menjadi penyebab utama kecelakaan fatal, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama instansi terkait telah menyiapkan sejumlah posko transit di titik-titik strategis sepanjang jalur mudik. Posko-posko ini didesain agar para pemudik dapat beristirahat sejenak dengan aman, mendapatkan layanan kesehatan ringan, serta memperoleh informasi terkini mengenai kondisi jalan di depan mereka. Gubernur mengimbau kepada para pemudik agar tidak memaksakan diri berkendara jika merasa lelah dan memanfaatkan fasilitas posko yang telah disediakan oleh pemerintah maupun pihak kepolisian.
Selain aspek infrastruktur dan keamanan, aspek mitigasi bencana juga tidak luput dari pembahasan. Mengingat cuaca pada bulan Maret yang terkadang masih diwarnai oleh curah hujan tinggi, BPBD Sumsel disiagakan untuk mengantisipasi potensi bencana alam seperti tanah longsor di jalur lintas tengah maupun banjir di beberapa titik rendah jalur lintas timur. Alat-alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) disiagakan di lokasi-lokasi rawan longsor agar dapat segera melakukan pembersihan material jika terjadi bencana, sehingga akses jalan tidak terputus dalam waktu lama.
Koordinasi lintas instansi ini diharapkan mampu meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas (zero accident) serta menekan angka kemacetan hingga ke titik terendah. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sadar betul bahwa suksesnya penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 akan menjadi indikator keberhasilan pembangunan infrastruktur dan sinergitas antarlembaga di wilayahnya. Dengan persiapan yang dilakukan sejak dini, diharapkan lonjakan mobilitas masyarakat yang terjadi setiap tahun di berbagai jalur transportasi di Sumatera Selatan dapat terkelola dengan baik, sehingga tradisi mudik tetap menjadi momen yang membahagiakan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai penutup dalam rangkaian persiapan tersebut, Gubernur Herman Deru mengajak seluruh masyarakat untuk juga berperan aktif dalam menjaga ketertiban. Para pemudik diminta untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum berangkat, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, serta mengikuti arahan petugas di lapangan. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah yang menyiapkan sarana prasarana dan masyarakat yang disiplin dalam berkendara, arus mudik Lebaran 2026 di Sumatera Selatan diharapkan dapat berjalan dengan lancar, aman, dan penuh keberkahan bagi semua pihak yang terlibat. Kesigapan Pemprov Sumsel dalam memetakan jalur rawan ini adalah bukti nyata bahwa negara hadir untuk melindungi dan melayani warga negaranya dalam merayakan momen sakral keagamaan dan kebudayaan.
