
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memberikan jaminan penuh bahwa operasional penyeberangan di lintasan tersibuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali, yakni Ketapang-Gilimanuk, tetap berjalan normal dan kondusif. Kepastian ini disampaikan menyusul terjadinya insiden kebakaran skala kecil di salah satu ruangan KMP Portlink VII pada Rabu malam, 11 Maret 2026. Berkat kesigapan personel dan penerapan prosedur keselamatan yang ketat, insiden tersebut berhasil dipadamkan dalam waktu singkat tanpa mengganggu ritme distribusi logistik maupun mobilitas penumpang antar-pulau.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 20.08 WIB, tepat saat kapal sedang berada di area dermaga dalam proses pemuatan (loading) kendaraan dan penumpang. Titik api terpantau muncul di area dek penumpang sebelah kanan bagian belakang kapal. Begitu alarm tanda bahaya berbunyi, awak kapal yang telah terlatih dalam simulasi tanggap darurat langsung mengambil tindakan preventif. Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) menjadi langkah pertama yang dilakukan secara kolektif oleh kru kapal untuk melokalisir api agar tidak merembet ke area mesin maupun dek kendaraan yang memuat barang-barang sensitif.
Upaya pemadaman internal tersebut kemudian diperkuat oleh tim tanggap darurat darat dari otoritas pelabuhan. Dengan menggunakan fasilitas hydrant air tawar yang tersedia di dermaga, sinergi antara kru kapal dan petugas darat berhasil menjinakkan api sepenuhnya pada pukul 20.35 WIB. Kecepatan penanganan yang hanya memakan waktu sekitar 27 menit ini membuktikan bahwa sistem proteksi kebakaran dan koordinasi antar-instansi di Pelabuhan Ketapang berfungsi dengan sangat baik. ASDP mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa, baik dari pihak penumpang maupun awak kapal, dalam insiden ini.
Sebagai langkah prioritas pasca-pemadaman, petugas segera melakukan evakuasi terhadap seluruh penumpang dan muatan kendaraan yang berada di atas KMP Portlink VII. Untuk menjaga agar rantai pasok logistik tidak terputus, ASDP melakukan langkah taktis dengan mengalihkan 12 unit truk barang ke kapal lain yang siap berangkat, yaitu KMP Jambo. Langkah ini diambil untuk meminimalkan waktu tunggu dan memastikan barang-barang kebutuhan pokok serta komoditas lainnya dapat tiba di Bali sesuai jadwal. Sementara itu, satu unit truk yang sempat mengalami kendala teknis saat proses evakuasi langsung mendapatkan penanganan khusus melalui program service recovery dari manajemen ASDP sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap kenyamanan pengguna jasa.
Selama proses penanganan darurat dan evakuasi berlangsung, aktivitas di Pelabuhan Ketapang secara umum tidak mengalami stagnasi. Berdasarkan data operasional di lapangan, arus kendaraan logistik tetap mengalir lancar. Tidak ditemukan adanya antrean panjang yang menyebabkan kendaraan tertahan lebih dari satu jam di area kantong parkir pelabuhan. Hal ini menunjukkan bahwa skema kontingensi yang disiapkan ASDP untuk menghadapi situasi darurat mampu menjaga stabilitas layanan penyeberangan secara keseluruhan.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menyatakan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan cepat ini. Menurutnya, keberhasilan mengatasi situasi darurat tanpa jatuhnya korban adalah hasil dari pelatihan rutin yang dijalani oleh setiap awak kapal ASDP. "Kami sangat mengapresiasi kesigapan awak kapal dan tim operasional di lapangan yang menangani situasi darurat dengan cepat dan sesuai prosedur keselamatan (SOP). Prioritas utama kami adalah memastikan keselamatan nyawa pengguna jasa sekaligus menjaga kelancaran layanan penyeberangan yang menjadi urat nadi ekonomi antara Jawa dan Bali," tutur Windy dalam keterangan resminya.
Windy juga menekankan bahwa meskipun api sudah padam, KMP Portlink VII tidak akan langsung dioperasikan kembali. Perusahaan mengedepankan prinsip safety first dengan menarik kapal tersebut dari jadwal operasional untuk sementara waktu guna menjalani inspeksi menyeluruh. ASDP kini tengah melakukan koordinasi intensif dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Marine Inspector untuk melakukan audit keselamatan. Pemeriksaan ini mencakup pengecekan sistem kelistrikan, integritas struktur dek, hingga fungsi peralatan pemadam kebakaran otomatis di atas kapal.
"Bersama dengan otoritas pelabuhan, kami melakukan pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh guna memastikan kapal memenuhi seluruh aspek keselamatan dan kelaiklautan sebelum kembali melayani masyarakat. Kami berkomitmen untuk tidak memberikan toleransi sedikit pun terhadap aspek keamanan operasional di seluruh lintasan yang kami kelola," tambah Windy. Langkah investigasi ini juga bertujuan untuk mencari tahu penyebab pasti munculnya titik api agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Lintasan Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu jalur penyeberangan paling strategis di Indonesia. Jalur ini menjadi tumpuan bagi distribusi logistik dari pusat industri di Jawa menuju kawasan pariwisata dan pemukiman di Bali serta Nusa Tenggara. Gangguan kecil pada jalur ini berpotensi memicu dampak ekonomi yang luas, terutama terkait kenaikan biaya logistik jika terjadi keterlambatan distribusi barang. Oleh karena itu, langkah ASDP yang mampu memulihkan operasional dalam waktu kurang dari satu jam merupakan capaian krusial bagi ketahanan distribusi nasional.
Selain aspek logistik, kesiapan armada di Ketapang-Gilimanuk juga menjadi sorotan utama mengingat periode angkutan Lebaran 2026 yang kian mendekat. Kejadian pada KMP Portlink VII ini menjadi momentum bagi ASDP untuk melakukan ramp check atau pemeriksaan kelaikan mendadak terhadap seluruh armada yang bersiaga. Perusahaan ingin memastikan bahwa seluruh kapal yang beroperasi selama masa mudik Lebaran berada dalam kondisi prima, mengingat volume kendaraan dan penumpang diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam konteks pelayanan pengguna jasa, ASDP juga terus memperkuat sistem reservasi tiket online melalui aplikasi Ferizy. Sistem ini membantu mengatur arus masuk kendaraan ke pelabuhan sehingga tidak terjadi penumpukan massal di dermaga, bahkan saat terjadi kendala teknis pada salah satu kapal seperti insiden Rabu malam tersebut. Dengan data manifest yang akurat dari sistem digital, proses evakuasi dan pengalihan kendaraan ke kapal cadangan dapat dilakukan dengan lebih presisi dan terukur.
Ke depan, ASDP berencana untuk terus meningkatkan investasi pada teknologi keamanan maritim, termasuk pembaruan sistem sensor panas dan asap di area-area yang sulit dijangkau oleh pengawasan visual kru. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan penanggulangan bencana di laut juga akan terus diintensifkan bekerja sama dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan institusi terkait lainnya.
Secara keseluruhan, situasi di Pelabuhan Ketapang saat ini telah kembali normal sepenuhnya. Para calon penumpang dan pengusaha logistik diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak valid mengenai penutupan pelabuhan. Layanan penyeberangan tetap tersedia 24 jam dengan jadwal keberangkatan yang disesuaikan untuk menutupi kekosongan sementara yang ditinggalkan oleh KMP Portlink VII. ASDP menegaskan kembali komitmennya bahwa keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa tetap menjadi pilar utama dalam setiap layanan yang mereka berikan. Dengan koordinasi yang solid antara operator, regulator, dan pengguna jasa, ASDP optimis layanan penyeberangan nasional akan semakin andal dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan operasional di masa depan.(*)
